Pertanian Pangan

..............................

peternakan

....................................

Institut Pertanian Bogor

..........................................

Selamatkan Fauna Indonesia

......................................

ok kan

.........................................

Senin, 16 Januari 2012

Tepung Ikan

Menurut ilyas (1982), tepung ikan merupakan salah satu hasil pengawetan ikan dalam bentuk kering yang dihilangkan seluruh lemaknya. Selama ini, pemanfaatan tepung ikan hanya sebagai pakan ternak, sedangkan pemanfaatan sebagai pangan belum dilakukan. Hal ini dikarenakan konsumen lebih memilih ikan yang segar dan atau diawetkan secara segar untuk pangan dibandingkan dalam bentuk tepung kering. Standar mutu penggunaan tepung ikan sebagai sumber protein pakan harus memenuhi kualitas yang disyaratkan baik secara orgaleptik, fisik, kimiawi, dan bakteriologis maupun metode pengolahannya (Indrajaja, 1988). Menurut Standar Nasional Indonesia (1996), tepung ikan bermutu I untuk bahan pakan ternak memiliki standar protein kasar minimal 65%, serat kasar maksimal 1,5%, dan lemak kasar maksimal 8%. Sedangkan menurut NRC (1994), kandungan nutrisi tepung ikan yaitu bahan kering = 92%, protein kasar = 61%, lemak = 10%, serat kasar = 0,5%, Ca = 1,23%, P= 1,63%, GE = 4094 kkal/kg.
Dewasa ini, kebutuhan tepung ikan nasional setiap tahunnya meningkat. Dari kebutuhan tersebut, 70% masih impor dari berbagai negara, terutama Peru dan Chili. Harga tepung ikan juga mengalami perbedaan antara tepung ikan lokal dan impor. Harga tepung ikan impor lebih mahal dibandingkan produk lokal dengan kandungan kualitas yang sama. Pengolahan tepung ikan di Indonesia mengalami kendala, diantaranya produksi tepung ikan didominasi oleh skala kecil menengah dan produksi tepung ikan nasional diarahkan untuk memanfaatkan bahan sisa dari industri ikan karena bahan ikan diperuntukkan untuk konsumsi manusia. Diperkuat dengan dikeluarkannya SK Menteri Pertanian No 428 / Mentan / KI/1973 tertanggal 4 Oktober 1973 ditujukan kepada Gubernur di seluruh Indonesia. Isinya adalah "tidak membenarkan secara langsung penggunaan ikan untuk bahan tepung ikan dan lokasi pabrik tepung ikan harus berdekatan dengan industri bahan sampingan".
Tingginya protein tepung ikan menbuat bahan pakan ini dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani. Tepung ikan juga kaya dengan asam amino esensial terutama lisin dan metionin yang selalu kurang dalam bahan makanan ternak asal nabati (Rasyaf, 1990). Pemanfaatan tepung ikan untuk bahan pakan ruminasia memiliki batasan tertentu, yaitu 10% dari total bahan yang digunakan. Hal ini dikarenakan jenis protein yang terkandung dalam tepung ikan merupakan protein yang lolos degradasi fermentasi dirumen. Menurut Sardiana (1984), tepung ikan memiliki tingkat degradasi sekitar 22%. Hal ini akan menyebabkan mikroba didalam rumen akan mati sehingga kecernaan serat kasar menurun. Oleh karena itu, kombinasi antara sumber protein yang mudah dan sulit terdegradasi perlu dilakukan dalam penyusunan ransum ternak ruminansia.
Berdasarkan tingkat palatabilitas ternak ruminansia, tepung ikan memiliki tingkat yang rendah dibandingkan nabati lainnya, seperti bungkil kedelai. Hal ini menyebabkan menurunnya tingkat konsumsi bahan kering. Menurut addulah et al. (2005), suplementasi tepung ikan impor dan lokal dapat menurunkan konsumsi bahan kering pada kambing kacang. Rendahnya palatabilitas ini disebabkan bau dan rasa tepung ikan yang khas. Rasa tepung ikan lokal lebih asin dibandingkan tepung ikan impor, karena kondisi bahan baku yang digunakan sudah tidak segar, sehingga lebih banyak menyerap rasa asin dari air laut. (Hussein dan Jordan, 1991). 

Andongrejo : Potensi Sosial Desa Pinggir Hutan di Jember

Dikutip setelah membaca buku “Dinamika Kelembagaan Sistem Informasi Desa”, dari LATIN (Lembaga Alam Tropika Indonesia).

Desa Andongrejo merupakan salahsatu desa pinggir hutan seperti desa lainnya di Pulau Jawa. Desa ini masuk dalam wilayak kecamatan Tempurejo, akan tetapi aktifitas masyarakat kebanyakan ke daerah Ambulu. Ambulu merupakan kota kecamatan yang ramai dan menjadi salah satu pusat ekonomi bagi daerah-daerah sekitar. Secara umum, desa ini berbatasan langsung dengan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), yang merupakan taman nasional yang ditemukan harimau jawa terakhir.
Masyarakat di desa Andongrejo merupakan potret masyarakat miskin. Minimnya lahan pertanian membuat perekonomian penduduk desa tersebut terpuruk. Rumah yang diberi istilah gubug-gubug didirikan disekitar lahan kebun tethelan (reclaiming) dipinggir kawasan taman nasional. Masyarakat tersebut menanam padi didaerah kering, pisang, dan juga mengambil madu di pohon-pohon besar.
Selain itu, desa tersebut masih sepi dari lalu-lalang orang. Adakalanya penduduk mencari bambu atau bahan obat-obatan ke arah hutan, truk melintas dari arah bandealit menuju ke ambulu dengan mengangkut ternaj dan orang. Bandealit merupakan salah satu dusun di desa Andongrejo, daerah pesisir terletak 14 km dari pusat desa dan berada di dalam kawasan TNMB.
Menurut LATIN (2005), desa Andongrejo dihuni 5.497 penduduk pada tahun 2000. Penduduk terdiri atas 2 suku, yaitu suku jawa dan suku madura. Mayoritas penduduk memeluk agama islam. Didesa tersebut memiliki 2 masjib dan mushola/langgar yang terdapat di blok-blok lingkungan sebagai pusat aktifitas, terutama anak-anak. Pada saat menjelang maghrib, anak-anak datang ke mushola untuk membaca dan menulis arab. Setiap mushola memilki ustad yang bertugas mengajar mengaji dan memimpin kegiatan keagamaan lain seperti upacara selamatan/kenduri.
Masyarakat andongrejo memiliki wadah untuk jaringan informasi berupa kegiatan tahlilan. Tahlilan didaerah tersebut dibentuk berdasarkan tempat tinggal (wilayah RT) sebagai bentuk semangat keagamaan. Acara tersebut diadakan secara bergantian di salah satu rumah warga. Sebelum acara dimulai anggota tahlilan mengumpulkan uang dari para anggota untuk tuan rumah. Jumlah iuran tidak ditentukan nominalnya, tetapi dibatasi dengan jumlah minimumnya. Selain kelompok ini dibentuk berdasarkan kelompok keagamaan, tetapi didalamnya terdapat bentuk sosial lainnya yaitu, pemberian penyuluhan dari polisi kehutanan tentang hal-hal yang berkaitan taman nasional.
Dalam kaitannya dengan sektor ekonomi, masyarakat memiliki relasi sosial dnegan tengkulah. Hubungan ekonomi tersebut dalam bentuk jual beli hasil pertanian terutama pisang. Petani melakukan jual beli secara langganan. Dalam jual beli tersbeut ada kalanya salah satu pihak saling dihutang atau saling meminjam [DE].


Senin, 19 Desember 2011

Masalah Petani, Jangan Main-main

Pertanian itu didesain agar setiap sub tersebut saling bersinambungan. Pertanian secara luas terbagi menjadi pertanian pangan, kehutanan, perikanan, kelautan, dan peternakan. Sub tersebut bisa terbagi beberapa bagian lagi. Menurut penelitian, setiap sub pertanian harus berdampingan agar sub tersebut bisa berjalan dengan sistem yang ada.

Perkembangan pertanian sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Penelitian, keberdayaan SDM, dan pengabdian sudah banyak yang melakukannya. Akan tetapi pengertian pertanian secara luas belum dipaham sepenuhnya oleh petani, terutama petani rakyat. Hasil-hasil penelitian selama ini masih alas tidur kaum yang berpendidikan. Ribuan penelitian belum terelasasikan secara penuh kepada masyarakat. Hal tersebut yang membuat perkembangan pertanian di Indonesia belum berkembang.

Pengertian pertanian secara modern oleh kaum petani desa belum sejalan dengan pelestarian sub pendukung pertanian sendiri. Dewasa ini, pertanian modern dianggap sudah merusak hidup petani. Mengapa tidak, semua petani rakyat berorientasi kepada keuntungan semata. Para petani belum memikirkan arah kedepan pertaniannya. Contohnya pemakaian pestisida sebagai pembunuh hama menjadi alternatif yang paling efesien, padahal hal tersebut bakal mematikan biota-biota lain yang bukan hama, misalnya : cacing, mikoriza, dan lain-lain.

Beberapa kasus lainnya seperti melebaknya wereng coklat dan ulat bulu menjadi perhatian media selama ini. Meledaknya tersebut dikarenakan rantai makanan di suatu ekosisitem sudah tidak berjalan lagi. Punahnya spesies predator karena pemakaian pestisida secara berlebihan menjadi konsumen dirantai makanan ekosistem meledak.

Kekhawatiran meledaknya hama selama ini menjadikan petani rakyat ketakutan. Pihak swasta yang menjadi produsen pestisida semakin galak memamerkan produknya kepada petani. Padahal tujuan petani dan produsen pestisida tidak sama. Petani lebih mengutamakan keunggulan hasil pertaniannya, sedangkan produsen pestisida lebih mengutamakan keuntungan dalam penjualan produknya. Apabila kedua pihak masih berbeda, maka pertanian Indonesia tidak akan maju. Ditambah lagi pengetahuan petani yang mayoritas masih rendah, hal ini akan semakin berdampak kebangkrutan pada petani, yang keuntungan pada perusahaan produsen swasta. Apakah petani tersebut berubah menjadi produsen pestisida, karena lebih menguntungkan? Terus masyarakat kita mau makan apa?

Permasalahan tersebut harus segera diselesaikan. Apabila tidak segera diselesaikan akan mengakibatkan semakin terpuruknya petani rakyat kita. Pemerintah sudah membuat standart dalam pemakaian pestisida, akan tetapi masih kurang dipahami oleh petani rakyat. Hal ini menyebabkan perusahaan produsen pestisida semakin gencar mempromosikan produknya.  Bisa dibayangkan apabila petani kita masih kurang memahami tulisan cara pemakaian di produk pestisida kemudian “kemakan omongan” sales produsen pestisida. Selain membuat standart khusus, pemerintah berkewajiban untuk mendampingkan petani dalam pemakaiannya dan menindak tegas kepada perusahaan produsen pestisida yang masih melanggar standart. 

Senin, 05 Desember 2011

Pesta rakyat Jember 2011

Revolusi baru itu telah hadir dalam hari ini – 03-04 Desember 2011. Hal itu terbukti dengan kemeriahan dalam acara PESTA RAKYAT  kita- Makrab IMJB 2011 yang diadakan di Gunung Bunder. Seperti budaya sebelumnya, acara ini diadakan setiap tahun dengan konsep yang berbeda. Mengapa tidak, dari segi kemeriahan, kekeluargaan, dan kehadiran sangat meningkat dari tahun sebelumnya. # villa pun naik sedikit dibandingkan villa tahun kemaren, apakah lokasi tahun depan akan naik lagi sampai mentok bukit Cigamea, ayo ditunggu tahun depan...hehehe
Acara yang sudah dipersiapkan ini semua dilaksanakan oleh angkatan 48 (Selamat yahhh) yang merupakan angkatan terbaru IPB tahun ini. Terima kasih semua....terutama orang telah berkontribusi dalam acara ini. Jujur, acara ini sangat mengesankan bagi peserta semua.
Acara ini dihadiri oleh 40-an orang dengan identitas resmi berasal dari Jember. Meningkat dibandingkan tahun kemaren. Diwakili oleh semua angkatan yang masih aktif di IPB. Rame pokoknya....nyesel gak datang. Hal itu sangat penting karena posisi IMJB sekarang masih didalam ujung tangan kita. Keakraban tersebut perlu kita sadari bahwa kita hidup jauh dengan orang tua atau saudara, maka persahabatan di IMJB ini diharapkan dapat menampung (minimal) budaya tahun ke tahun biar organisasi kecil ini masih tetap berjalan.
Kegiatan didalam Makrab tidak berbeda dengan kegiatan Makrab di OMDA lainnya, akan tetapi yang membuat berbeda, salahsatunya kotak pesan yang terdapat di tembok ruang tamu. Menurut saya, konsepnya sederhana tetapi banyak hal yang didapat dari konsepan tersebut. Ketika seseorang tersebut menulis pesan kepada seseorang, maka seseorang tersebut masih peduli sama orang diberi pesan tersebut dan orang diberi pesan tersebut mendapatkan bahan lainnya yang dipandang dari seseorang pengirim pesan.



Selain itu, dari sekian banyak ketertawaan makrab, masih terdapat banyak persoalan yang dihadapi oleh perindividu. Menurut saya, hal yang konyol apabila perseorang tersebut masih memikirkan permasalahan tersebut, tanpa adanya pemikiran kritis tentang solusinya karena kita itu mahasiswa. Hal tersebut yang menjadi penghalang kreatifitas individu terbatasi di IMJB ini. Kita ini mahasiswa bung, apapun yang dilakukan itu adalah proses, maka dari itu ayo kita mendesain proses hidup kita lebih bermakna.
Oiya, makrab ini juga didesain untuk pemilihan ketua lho. Dengan beberapa tahap, syarat, dan sistem akhirnya terpilih juga ketua baru untuk setahun kedepan, yaitu : Arizal, anak jember dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (kalo ga salah). Semoga IMJB kedepan bisa semakin dewasa dalam menjalankan sistemnya.

Senin, 28 November 2011

Puncak keakraban IKALUM BOGOR 2011


Banyak keindahan tertema keakraban pada hari sabtu minggu 26-27 November 2011 tersebut. Puncak kebersamaan yang indah dan berkesan penuh tertawa.
IKALUM sudah haus dengan kebersamaan, nah... itulah para pengurus medesain sebuah malam keakraban yang ditujuan kepada semua anggota IKALUM Bogor.  (terima kasih panitia)
Dan tak lupa bagi angkatan baru (48) yang datang. Inilah keluargamu di Bogor, meskipun sederhana, gak jelas mukanyA, tapi angkatan 48 harus terima dengan rendah hati...hehehehe...
Malam keakraban tersebut tertepatan tahun baru islam. Hal itu merupakan suatu hal yang langka dilakukan oleh warga IKALUM. Semoga hari tersebut bisa bermanfaatkan untuk IKALUM berikutnya sehingga IKALUM bisa baru-baru terus dalam kekompakan dan kegiatannya.
Acara yang datang 30 orangan tersebut berlangsung sangat seru, penuh tertawa, dan ada seriusnya. Seru karena terdapat acara keislaman seperti sholawatan dll, tertawa karena games tiap angkatan gak jelas (jadinya terpaksa tertawa), dan serius karena ada sesi curhat...
Kita sangat berterima kasih untuk semuanya yang telah berkontribusi di acara malam keakraban tersebut. Sungguh acara tersebut lebih berkesan dibandingkan tahun sebelumnya.. # biar panitia bangga aja..hehehe
Dan inget teman-teman (khusunya pengurus), IKALUM merupakan lembaga tahap belajar teman2, daya kreatifitas teman2 disini dipertaruhkan... desain kreatifitas tersebut dengan indah, agar semua makmur sentosa...[DEN]

Senin, 21 November 2011

PERANAN RAPTOR SEBAGAI POTENSI EKOWISATA

Hasil Seminar UKF EXPO 2011


Tahun ini Seminar yang diadakan oleh Uni Konservasi Fauna IPB bertema satwa raptor yang berkaitan dengan potensi ekowisata. Hal ini ditinjau dari burung raptor endemik dan migran yang selama bulan- bulan terakhir ini melintas dikawasan Indonesia menjadi daya tarik para wisatawan untuk menjadi peluang pariwisata berbasis konservasi. Akan tetapi konservasi dengan pemanfaatkan raptor apakah sangat diperlukan sehingga konservasi raptor dan ekowisata tetap berjalan.


Ilustrasi
 

Seminar yang dimoderatori oleh Zulham dari Internasional Animal Rescue (IAR) mendapat informasi penting tentang raptor dan ekowisata. Pembicara-pembicara dari beberapa pihak antara lain : Teguh Hartono menyampaikan materi potensi indonesia sebagai potensi ekowisata, Ardi Andono menjelaskan potensi taman nasional gede pangrango sebagai potensi ekowisata raptor, Asman Adi Purwanto menjelaskan tentang raptor di Indonesia dan strategi konservasi berbasis ekowisata melalui peningkatan jaringan, dan Usep Suparman dari RCS menjelaskan potensi raptor sebagai salah satu potensi ekowisata.


“Peranan ekowisata selama ini sudah berkembang di negara maju, akan tetapi Indonesia belum” kata Teguh Hartono. Usep Suparman menambahkan bahwa minat wisatawan dalam negeri belum pernah ada, selama ini, potensi wisatawan dari Jepang yang sangat antusias berekowisata. Ekowisata yang terdapat di Taman Nasional Gede pangrango salah satunya, menurut Ardi Andono, potensi keaneragaman taman Nasional Gede pangrango yang tinggi menjadi peluang ekowisata memberikan pendapatan yang tinggi, yaitu sekitar 2,44 milyar. Asman Adi Purwanto menambahkan apalagi potensi indonesia sebagai jalur burung migran menjadi ketertarikan tersendiri bagi wisatawan.

Kesimpulan seminar ini adalah potensi raptor sebagai potensi ekowisata sangat tinggi. akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah konservasi raptor yang paling diutamakan. Selain itu, ekowisata harus menunjang konservasi raptor sehingga raptor tersebut dapat dilestarikan. [DEN]

Jumat, 18 November 2011

PERAN KEPAL-D BERBASIC PETERNAKAN

Spesial untuk KEPAL- D yang sedang Ulang Tahun

Sebelum saya ngucapin selamat ulang tahun kepada PECINTA ALAM KEPAL-D Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Sungguh waktu memang berjalan begitu cepatnya. Dan sampai saat ini KEPAL-D menjadi icon percontohan pandangan lingkungan secara lestari. Hal tersebut yang menjadi titik keistimewaan KEPAL-D selama ini.
Peranan KEPAL-D di Fakultas Peternakan sesungguhnya sangat potensial. Organisasi dengan basic lingkungan yang lestari dengan dasar peternakan. Dua istilah yang menurut saya sangat berhubungan, yaitu : lingkungan dan peternakan. Selama ini, lingkungan sangat identik dengan fakultas kehutanan. Akan tetapi, bila kita masih bisa bernafas dan itu memerlukan oksigen maka kita pun berkewajiban penuh untuk pelestarian lingkungan tersebut. Dasar itu lah mengapa gerakan lingkungan sampai saat ini masih ada dan tidak akan pernah berhenti sampai nanti. Selain itu, desain dari Tuhan yang maha Esa sudah sangat sistematik dan terarah. Sistematik dan terarah ini diartikan bahwa makhluk hidup sudah digariskan untuk hidup berdampingan dengan makhluk hidup lainnya dalam suatu ekosistem. Apabila disuatu ekosistem tersebut ada yang salah, maka akan mengganggu kehidupan makhluk lainnya. Suatu misal, kasus wereng coklat (Nilaparvata lugens) yang meledak bulan-bulan lalu. Hal tersebut karena predator wereng sudah tidak ada lagi seperti katak dan kodok. Selain itu pemakaian pestisida secara berlebihan mangurangi populasi predator tersebut dan mempertebal wereng (menurut beberapa penelitian dibidang pertanian). Hal tersebut salah satu alasan mengapa penggiat lingkungan dibutuhkan.
Penggiat lingkungan tercipta dari masalah manusia tidak bisa hidup tanpa adanya alam. Minimal anggota penggiat lingkungan itu tahu bahwa lingkungan itu perlu dilestarikan, tetapi bukan diartikan bahwa lingkungan tidak dimanfaatkan. Pemanfaatan secara berlebihan akan memperburuk dampak alam yang ada. Hal tersebut sudah banyak buktinya dan menbuat kita miris melihat kondisi tersebut terutama ketika perekonomian negara dikaitkan dengan pemanfaatan alam secara berlebihan.
Teman-teman KEPAL-D, semoga ini menbuat sadar kita bahwa kesadaran dan gerakan lingkungan masih diperlukan sampai nanti. Perjuangan teman-teman sangat diperlukan untuk pelestarian lingkungan kita, minimal Fakultas Peternakan kita. (DE)

Rabu, 16 November 2011

SUSTAINABILITY PALM OIL


Kelapa sawit memainkan peranan penting dalam perekonomian Indonesia dan merupakan salah satu komoditas andalan dalam menghasilkan devisa yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak kelapa sawit (CPO- crude palm oil) dan inti kelapa sawit (CPO) merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non-migas bagi Indonesia. Sebesar 47% minyak dunia dihasilkan oleh indonesia (7,9 juta ha). Selain menghasilkan devisa perkebunan kelapa sawit mampu menyerap dua juta tenaga kerja Indonesia dan menghasilkan keuntungan bagi petani Rp. 1.500.000 – 2.000.000 per Ha/bln. 
Konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit terus berlangsung sampai saat ini. Sebagai akibatnya, kegiatan konversi hutan telah menjadi salah satu sumber perusakan hutan alam Indonesia, bahkan menjadi ancaman terhadap hilangnya kekayaan keanekaragaman hayati ekosistem hutan hujan tropis Indonesia. Selanjutnya, praktik konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Hal ini terjadi karena pada kegiatan pembersihan lahan (land clearing) untuk membangun perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan cara membakar agar cepat dan biayanya murah. Proses konversi hutan yang dilakukan tidak didasarkan akan kaidah ekologi, ekonomi dan sosial secara seimbang, sehingga dapat menimbulkan dampak kerusakan lingkungan, kerugian ekonomi dan sosial.
Berbagai dampak negatif lainnya terhadap lingkungan akibat konversi hutan alam menjadi areal perkebunan kelapa sawit yaitu perubahan aliran air permukaan tanah, meningkatnya erosi tanah, dan pencemaran lingkungan akibat pemakaian pupuk dan pestisida dalam jumlah yang banyak. Sementara itu, masyarakat (khususnya masyarakat setempat) yang mengalami dampak negatif dari keberadaan proyek pembangunan perkebunan kelapa sawit, merupakan pihak yang menanggung biaya sosial dan biaya lingkungan yang terjadi sejak awal dimulainya proyek pembangunan perkebunan kelapa sawit.
Kebutuhan untuk menciptakan perkebunan berkelanjutan makin penting sejak kesadaran tentang lingkungan hidup semakin tinggi. Menyadari lingkungan hidup mengalami degradasi dan kerusakan, produk-produk hijau mulai digemari dan dibeli oleh konsumen. Produk hijau hanya dapat dihasilkan dari sistem produksi dan industri yang ramah lingkungan. Sistem produksi yang ramah lingkungan dapat diartikan juga sebagai sistem produksi yang berkelanjutan. Budidaya kelapa sawit yang berkelanjutan harus memperhatikan konsep yang bertanggung jawab secara sosial, lingkungan, dan praktek yang baik misalnya dengan tidak melakukan land clearing dengan membakar hutan. Produksi minyak sawit berkelanjutan meliputi pengelolaan dan operasi yang legal, layak secara ekonomi, berwawasan lingkungan dan bermanfaat secara sosial.
Hal yang dapat dilakukan untuk membentuk suatu budidaya yang berkelanjutan yaitu dengan membangun dari kawasan High Conservation Value Forest (HCVF) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Prinsip-prinsip dan kriteria RSPO mengatur perilaku perkebunan kelapa sawit agar tidak merusak lingkungan baik secara fisik, biologi, kimia, dan sosial budaya serta sosial ekonomi.  Perkebunan kelapa sawit untuk mendapatkan sertifikat RSPO juga harus melindungi HCV dan kawasan penting bagi perkembangan budaya masyarakat. Upaya lainnya yang dapat diterapkan yaitu mempunyai sumberdaya manusia yang handal dalam penerapan modal, ilmu pengetahuan, dan teknologi. (Emil Fatmala)

Senin, 14 November 2011

Sikap Manusia terhadap Komplik Gajah Terhadap Kaumnya

Pentingnya gajah terhadap ekosistem bersumber tidak hanya dari ukuran tubuh yang besar dan rata-rata umur bertahan hidup yang lama, akan tetapi sangat penting sebagai penyeimbang penstrukturan habitat dan memelihara keanekaragaman biologi secara besar-besaran. Peningkatan penduduk suatu daerah menyebabkan semakin hilangnya habitat gajah. Ketika suatu penduduk pindah ke suatu area proyek yang dahulu digunakan untuk mencari makan gajah (Seidebsticker, 1984). Seperti satwa liar lainnya, hilangnya habitat yang terdahulu gajah sering terpaksa menyerbu masyarakat yang sudah memindahkan mereka. Ini yang sering terjadi komplik antara gajah dan manusia.
Bagaimanapun, habitat yang paling sukai gajah adalah hutan dataran rendah. Dimasa lalu, sebagian besar pulau sebagai habitat gajah masih hutan, sehingga gajah mengadakan migrasi luas. Menurut Piaters (1938), ketika habitatnya masih berhutan gajah berpindah dari daerah gunung ke dataran rendah pantai selama musin kering dan naik ke bukit satu kali ketika musim hutan. Akan tetapi, saat ini koversi dan pembukaan hutan dataran rendah, gajah terpaksa bergerak ke tempat lebih tinggi, merupakan keterpencilan, kesukaran daerah, kepadatan pada beberapa tingkat persediaan penutupan lahan untuk perlindungan. 
Dewasa ini, situasi komplik manusia dan gajah terdapat dua perbedaan sikap yang terjadi di masyarakat menurut WWF Indonesia dan Balai KSDA Provinsi Riau, pertama, masyarakat tidak terlalu peduli dengan komplik dan menganggap gangguan ini adalah persoalan yang biasa dihadapi dari tahun ke tahun. Masyarakat cenderung tidak reaktif terhadap gajah. Masyarakat melakukan penanggulangan dengan membuka lahan secara berkelompok, melakukan rondamalam, membuat api unggun dan apabila gajah datang mereka melakukan pengusiransecara bersama dengan membuat bunyi-bunyian dan membawa obor. Kedua, masyarakat yang reaktif terhadap ganguan gajah yang terjadi. Gajah cenderung diperlakukan sebagai pihak yang harus disalahkan. Hal ini dipicu karena gangguan gajah yang terjadi dari tahun ke tahun semakin meningkat frekuensi dan penyebarannya, serta besarnya investasi yang telah hilang karena dirusak gajah. Penyelesaian yang ada di pikiran kelompok ini hanya satu, yaitu gajah harus disingkirkan dengan cara apapun, sehingga tidak jarang, ditemukan gajah yang mati, baik disengaja atau tidak [DE].

Senin, 07 November 2011

SEMINAR HASIL PENELITIAN DOMBA AKHIR KEBUNTINGAN DAN LAKTASI

Departemen ilmu nutrisi dan teknologi pakan, pada tanggal 03 November 2011 menggelar “Seminar hasil penelitian Tentang domba akhir kebuntingan dan Laktasi” di Ruang Seminar INTP Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Seminar ini disajikan oleh Dendy Vidianto, moderator Julia Saraswati, pembahas mahasiswa Nunu Ainul Qitri, notulen Eka Permana, dosen pembahas Dr. Despal S.Pt,MSc. Agr, dosen pembimbing Ir. Lilis Khotijah, M.Si, dan dosen penitia Ir. Lidy Herawati, MS.
Seminar ini merupakan salah satu seminar rutinitas bagi mahasiwa untuk syarat lulus dari Institut Pertanian Bogor. Tujuan hasil penelitian seminar ini adalah mengkaji pengaruh ransum dengan sumber protein tepung ikan dan bungkil kedelai pada domba akhir kebuntingan terhadap penampilan induk bunting dan anak pra sapih domba lokal.
Dalam seminar ini dibahas permasalahan domba akhir kebuntingan dan laktasi yang membutuhkan nutrisi lebih tinggi dibandingkan fase lainnya sehingga mempengaruhi reproduksi induk dan produksi anak. Tingginya kebutuhan domba akhir kebuntingan akan protein dan energi diharapkan mampu menghasilkan bobot lahir anak yang tinggi dan mortalitas yang rendah.
Berdasarkan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa ransum dengan suplementasi tepung ikan dan bungkil kedelai tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap penampilan reproduksi dan produksi induk serta produksi anak.